Postingan

[Novel] Amba: Kutukan Mahabharata dan Tragedi 1965 dalam Cerita Cinta

Gambar
Judul: Amba Penulis: Laksmi Pamuntjak Penerbit: Gramedia Tahun terbit: Juni 2015 (cetakan kelima edisi baru) ISBN: 978-979-22-9984-7 Saya begitu ingin membaca novel Amba sejak penulisnya, Laksmi Pamuntjak mendapatkan penghargaan The LiBeraturpreis, Jerman yang diberikan dalam acara Frankfrut Book Fair. Novel ini telah diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul The Question of Red dan dalam bahasa Jerman dengan judul Alle Farben Rot . Begitu membaca sinopsisnya dan ternyata mengangkat tema yang cukup besar dan sensitif dalam sejarah Indonesia, yaitu sekitar peristiwa 30 September 1965, saya semakin penasaran. Sampai akhirnya seorang teman menghadihkan novel ini kepada saya (atas permintaan saya juga sih, sebagai barteran karena saya make up dia di acara sumpah dokter hehehehehe). Terima kasih sebesar-besarnya kepada dr. Dzerlina Syanaiscara Rahari yang sudah bersedia saya “palak” 😃 . Amba ingin melawan mitos atas namanya. Dia bukan Amba dalam pewayangan, pere...

Hari Kartini: Merenungkan “Kodrat” Macak, Masak, Manak

Gambar
21 April di Indonesia diperingati sebagai Hari Kartini. Biasanya anak-anak kecil di sekolah atau karyawan di beberapa institusi merayakannya dengan memakai pakaian adat. Akan tetapi, sebenarnya makna Hari Kartini lebih dari itu. Hari Kartini hendaknya dimaknai dengan mengenang kembali perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan dan pemenuhan hak-hak perempuan. Raden Ajeng Kartini atau lebih tepatnya Raden Ayu Kartini (karena saat meninggal sudah berstatus menikah, jadi gelarnya Raden Ayu) adalah seorang putri Bupati Jepara, lahir di Jepara 21 April 1879, menikah dengan Bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, dan meninggal di Rembang 17 September 1904 setelah melahirkan anak pertamanya (hasil baca di Wikipedia hehehehe). Pada usia kanak-kanak Kartini sempat mengenyam pendidikan di ELS ( Europese Lagere School ), tetapi sejak usia 12 tahun dipingit. Akan tetapi, dengan kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini  belajar sendiri dengan membaca berbagai...

Sajak Es Krim

Gambar
di sebuah kamar bercahaya minim kumulai surat ini dengan salam takzim meski aku bukan manusia alim mulutku sering mencerca layaknya hakim aku tetap punya rasa layaknya makhluk pemilik rahim bukan batik dan kebaya encim atau hadiah lain yang kau kirim yang aku ingin mungkin di satu sore yang hening, kita bisa duduk mengobrol intim sambil menikmati suap demi suap es krim Yogyakarta, 3 Januari 2017

Jalan Penuh Luka

Gambar
Ini jalan penuh luka kau bisa mencium aroma anyirnya mendengar tetes darahnya Ini jalan penuh luka berbekallah sekantung air mata berkalunglah untaian doa Ini jalan penuh luka maukah kau tetap bersama atau tanganku kaulepas saja? Yogyakarta, 14 Desember 2016 20:25

Renungan untuk Ibu: Terima Kasih karena Telah Menjagaku

Gambar
Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk tak jadi pendendam .... Kita tak pernah bisa memilih terlahir dalam keluarga seperti apa. Aku bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang lengkap, tak banyak masalah, tapi kau juga tak bisa menyesal karena terlahir dalam keluarga yang mengalami perpecahan. “Kenapa sih Ibu selalu berkorban buat dia yang dulu menyia-nyiakan Ibu? Waktu Ibu kecil, nggak diurusin. Yang diurusin anak-anaknya yang sana. Kenapa sekarang waktu dia sakit Ibu juga yang harus mengurus? Toh pengorbanan Ibu nggak ada artinya di matanya,” kataku. “Bagaimanapun dia bapakku,” kata Ibu. Satu kalimat itu cukup membungkam mulutku. Cinta memang mengabaikan logika. Cinta itu pula yang memadamkan dendam. Cintamu pula yang mengajarkanku untuk ikhlas, sabar, dan tak memelihara rasa dendam. Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk jadi perempuan mandiri .... “Perempuan itu mesti kreatif, mandiri, nggak boleh menyusahkan laki-laki. Perempuan itu nggak boleh be...

Curhat buat Sahabat: Maafin Aku Ya, Jeng....

Gambar
Dear Jeng Depol, a.k.a. Devi.... Nggak terasa ya kita sahabatan hampir 8 tahun. Kita memang satu fakultas, kamu di D-3 Bahasa Jepang (dulu belum jadi Sekolah Vokasi), aku di S-1 Sastra Indonesia, tapi justru dipertemukan di Gelanggang Mahasiswa. Kita jadi dekat karena sama-sama jadi “bocah gelanggang”, anak UKM, ikut divisi tari putri UKJGS (Unit Kesenian Jawa Gaya Surakarta). Kita jadi semakin dekat gara-gara jadi pengurus harian, kamu jadi kepala divisi tari putri, aku jadi staf divisi inventaris dan kostum. Kita sedih bareng kalau dimarahi senior, ketawa bareng kalau ada momen-momen indah. Di luar kegiatan UKM pun kita tetap dekat. Selama kita sahabatan, ada banyak hal yang selama ini mengganjal yang perlu aku sampaikan. Gelanggang Mahasiswa, tempat kita dipertemukan Menari, kegiatan yang membuat kita dekat Maafin aku ya, Jeng.... Dulu aku sok dekat waktu kita baru kenalan.... Waktu itu kita baru kenal, tapi aku udah minta tolong kepangin rambutku. Duh, Jeng, ...

Sajak Wedang Ronde

Gambar
SAJAK WEDANG RONDE Tak lihatkah langit tergulung awan? Sesaat lagi mengirimkan hujan Tak inginkah singgah barang sebentar? Menghirup harumnya serai, pandan, dan jahe bakar Menggigit gurihnya kacang, kenyalnya ketan Mencecap manisnya air penghangat badan Sambil mengudap sepiring obrolan Mungkin satu sore di masa depan Kita bisa duduk bersama sambil wedangan Sambil menghitung rambut kita yang belum jadi uban Yogyakarta, 15 Mei 2016 *Puisi ini ditulis pada sebuah sore yang mendung sambil minum (atau makan) wedang ronde buatan saya yang kata Dewan Icip Nasional (teman-teman kos) jahenya kurang terasa. Minumnya nggak sambil baper kok.... :D