Postingan

Menampilkan postingan dengan label renungan

Belajar Nrima lewat Fotografi

Gambar
Perkenalan saya dengan fotografi dimulai sejak tahun 2018. Saat itu saya membeli sebuah kamera mirrorless kualitas low end merek Nikon. Uangnya dari mana? Dari hasil “menjual putus” naskah buku yang pertama saya tulis ditambah membobol ATM. ATM dari rekening sendiri tentunya. Belinya dengan menitip ke kawan saya yang sedang studi S-3 di Jepang. Nikon 1 J5, si mungil nan powerful Kalau hanya sekadar jeprat-jepret, itu sudah saya lakukan sejak punya ponsel dengan kamera. Soal kualitas foto ya begitulah, paling-paling cuma selfie dengan angle miring yang pernah ngehits di masanya. Belum tahu bahwa arah cahaya itu sangat berpengaruh terhadap hasil foto. Belum tahu bahwa objek-objek itu harus “ditata” sedemikian rupa agar tercipta komposisi yang bagus. Setelah punya kamera, saya semakin tertarik belajar fotografi. Belajar dengan baca artikel dan buku serta melihat video tutorial adalah jalan ninja saya. Kemudian saya bergabung dengan komunitas fotografi yang memberikan banyak sekali i...

Hari Kartini: Merenungkan “Kodrat” Macak, Masak, Manak

Gambar
21 April di Indonesia diperingati sebagai Hari Kartini. Biasanya anak-anak kecil di sekolah atau karyawan di beberapa institusi merayakannya dengan memakai pakaian adat. Akan tetapi, sebenarnya makna Hari Kartini lebih dari itu. Hari Kartini hendaknya dimaknai dengan mengenang kembali perjuangan Kartini dalam bidang pendidikan dan pemenuhan hak-hak perempuan. Raden Ajeng Kartini atau lebih tepatnya Raden Ayu Kartini (karena saat meninggal sudah berstatus menikah, jadi gelarnya Raden Ayu) adalah seorang putri Bupati Jepara, lahir di Jepara 21 April 1879, menikah dengan Bupati Rembang bernama K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, dan meninggal di Rembang 17 September 1904 setelah melahirkan anak pertamanya (hasil baca di Wikipedia hehehehe). Pada usia kanak-kanak Kartini sempat mengenyam pendidikan di ELS ( Europese Lagere School ), tetapi sejak usia 12 tahun dipingit. Akan tetapi, dengan kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini  belajar sendiri dengan membaca berbagai...

Renungan untuk Ibu: Terima Kasih karena Telah Menjagaku

Gambar
Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk tak jadi pendendam .... Kita tak pernah bisa memilih terlahir dalam keluarga seperti apa. Aku bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang lengkap, tak banyak masalah, tapi kau juga tak bisa menyesal karena terlahir dalam keluarga yang mengalami perpecahan. “Kenapa sih Ibu selalu berkorban buat dia yang dulu menyia-nyiakan Ibu? Waktu Ibu kecil, nggak diurusin. Yang diurusin anak-anaknya yang sana. Kenapa sekarang waktu dia sakit Ibu juga yang harus mengurus? Toh pengorbanan Ibu nggak ada artinya di matanya,” kataku. “Bagaimanapun dia bapakku,” kata Ibu. Satu kalimat itu cukup membungkam mulutku. Cinta memang mengabaikan logika. Cinta itu pula yang memadamkan dendam. Cintamu pula yang mengajarkanku untuk ikhlas, sabar, dan tak memelihara rasa dendam. Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk jadi perempuan mandiri .... “Perempuan itu mesti kreatif, mandiri, nggak boleh menyusahkan laki-laki. Perempuan itu nggak boleh be...

“KAPAN KAWIN?”: Sebuah Pertanyaan yang Sesungguhnya Tidak Memerlukan Jawaban, melainkan Doa

Gambar
Jelang Lebaran 2015, mulai banyak teman-teman saya yang memasang display picture di Blackberry Messenger dengan meme yang bernada menolak pertanyaan “Kapan kawin?”. Ada yang bernada frontal, ada yang lucu. Saya pun merasakan “keresahan” yang sama. Sebagai orang yang sampai sekarang masih belum jelas siapa jodohnya, belum ada tanda-tanda bahwa “si dia” sudah dekat,  alias masih...uhuk... single , pertanyaan basa-basi ini kadang-kadang terasa annoying . Selain pertanyaan “Kapan kawin?” dan “Kapan nyusul?”, ada pertanyaan serupa yang kadang ingin membuat saya berteriak, “Errrrrr.” sambil mencakar-cakar tanah. Stop tanya "Kapan nikah?" :D Cari Pacar Sana! Cari pacar? Emang ada gitu yang buang? Hahahaha. Dalam sebuah percakapan dengan salah satu sepupu saya, entah bagaimana ceritanya tiba-tiba dia berkata, “Jadi cewek itu harus matre. Kalau nggak matre lapar. Cari pacar, Mbak. Kalau punya pacar kan ke mana-mana ada yang nganter, nggak usah panas-panasan naik a...

Kunjungan Orangtua: Antara Berkah dan (Bukan) Musibah

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Minggu, 23 Agustus 2015 orangtua saya berkunjung ke kos. Keesokan harinya mereka akan menemani saya menjalani sebuah pemeriksaan di Rumah Sakit Panti Rapih. Pemeriksaannya apa, mungkin akan saya ceritakan dalam tulisan lain karena bisa panjang sekali. Mereka datang sore hari supaya bisa berangkat ke rumah sakit pagi-pagi. Sebelumnya saya sudah meminta izin kepada ibu kos bahwa bapak dan ibu saya akan menginap. “Naik busnya apa?” tanya Bapak. “Naik bus Jogja-Solo turun Prambanan. Naik TransJogja 1A, turun Bandara (Adisutjipto), transit ganti 3A, bilang turun Kopma UGM. Besok berangkatnya sore aja soalnya aku nari di penutupan ospek. Paling pulang jam 5. Kalau udah sampai Kopma, SMS aja nanti aku jemput. Jalan ke kosku paling 100 meter.” Berhubung baru sekali datang ke kos saya yang sekarang, tepatnya saat pindahan kos, bapak saya belum tahu angkutan umum menuju kos saya. Harus dijelaskan sedetail mungkin supaya mereka tidak tersesat. Sekali salah b...