Postingan

Menampilkan postingan dengan label Aku dan Keluargaku

Renungan untuk Ibu: Terima Kasih karena Telah Menjagaku

Gambar
Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk tak jadi pendendam .... Kita tak pernah bisa memilih terlahir dalam keluarga seperti apa. Aku bersyukur karena terlahir dalam keluarga yang lengkap, tak banyak masalah, tapi kau juga tak bisa menyesal karena terlahir dalam keluarga yang mengalami perpecahan. “Kenapa sih Ibu selalu berkorban buat dia yang dulu menyia-nyiakan Ibu? Waktu Ibu kecil, nggak diurusin. Yang diurusin anak-anaknya yang sana. Kenapa sekarang waktu dia sakit Ibu juga yang harus mengurus? Toh pengorbanan Ibu nggak ada artinya di matanya,” kataku. “Bagaimanapun dia bapakku,” kata Ibu. Satu kalimat itu cukup membungkam mulutku. Cinta memang mengabaikan logika. Cinta itu pula yang memadamkan dendam. Cintamu pula yang mengajarkanku untuk ikhlas, sabar, dan tak memelihara rasa dendam. Terima kasih karena Ibu mengajarkanku untuk jadi perempuan mandiri .... “Perempuan itu mesti kreatif, mandiri, nggak boleh menyusahkan laki-laki. Perempuan itu nggak boleh be...

Surat buat Bapak: Terima Kasih Sudah Menemani Langkahku Sejauh Ini

Gambar
Untuk Bapak.... Beberapa waktu lalu, tepatnya saat Lebaran 2015, kita bertiga (aku, Bapak, dan Ibu) duduk-duduk di ruang tamu selepas makan malam. Aku melihat foto wisudaku yang terpasang di dinding kayu rumah kita dan tiba-tiba aku berkata, “Mau pasang foto di ruang tamu aja mesti susah payah empat tahun ya. Seandainya aku nggak kuliah, mungkin nggak ada foto di ruang tamu ya.” “Ada foto, tapi foto lain,” kata Ibu. “Kok kita dulu nekat banget ya? Nggak punya uang, tapi ngotot kuliah. Punya motor cuma satu, eh dijual juga. Nah itu tetangga-tetangga kita punya sapi banyak, tanah luas, anaknya cuma sampai SMP, mentok-mentok SMA,” kataku. “Kan pengen anaknya pinter,” kata Bapak. Aih! Jadi, menurut Bapak, aku ini bodoh? L “Nyatanya kita bisa melewati semua sama-sama,” kata Ibu. “Kalau kamu nggak kuliah, mungkin nggak pernah tahu gedung yang namanya Grha Sabha Pramana. Hehehehe,” kata Bapak dengan nada bercanda. Ya, bercanda memang aktivitas yang kita lakukan sekeluarga ketika sedang ...

Kunjungan Orangtua: Antara Berkah dan (Bukan) Musibah

Gambar
Beberapa waktu yang lalu, tepatnya Minggu, 23 Agustus 2015 orangtua saya berkunjung ke kos. Keesokan harinya mereka akan menemani saya menjalani sebuah pemeriksaan di Rumah Sakit Panti Rapih. Pemeriksaannya apa, mungkin akan saya ceritakan dalam tulisan lain karena bisa panjang sekali. Mereka datang sore hari supaya bisa berangkat ke rumah sakit pagi-pagi. Sebelumnya saya sudah meminta izin kepada ibu kos bahwa bapak dan ibu saya akan menginap. “Naik busnya apa?” tanya Bapak. “Naik bus Jogja-Solo turun Prambanan. Naik TransJogja 1A, turun Bandara (Adisutjipto), transit ganti 3A, bilang turun Kopma UGM. Besok berangkatnya sore aja soalnya aku nari di penutupan ospek. Paling pulang jam 5. Kalau udah sampai Kopma, SMS aja nanti aku jemput. Jalan ke kosku paling 100 meter.” Berhubung baru sekali datang ke kos saya yang sekarang, tepatnya saat pindahan kos, bapak saya belum tahu angkutan umum menuju kos saya. Harus dijelaskan sedetail mungkin supaya mereka tidak tersesat. Sekali salah b...